Gagasan membuat panggung sastra yang sederhana memang tiba-tiba saja. Waktu itu, berkumpul sejumlah seniman di Singkawang, diantaranya : Johari Pion, Sandi Muliawarman, Priska Yeniriatno, Hilman Juliansyah, dan saya di warung kopi Rusen Singkawang. Masih dalam suasana ramadhan.
Di Singkawang, kegiatan seni di bulan ramadhan memang tidak begitu terlihat. Tapi warung kopi di tengah malam selalu ramai dikunjungi orang. Sehingga ba’da isya dan teraweh, banyak diantara kami memilih duduk menghabiskan waktu di warkop. Ngawur ngidul.
Obrolan malam di WK. Rusen itu memang kemana-mana. Mulai dari minimnya pertunjukkan seni budaya hingga ruang pertunjukkan yang tidak ada di Singkawang. Kondisi ini, bagi kami, tidak sehat. Butuh sebuah gerakan bersama untuk menggairahkan kembali seni budaya di Singkawang.
Johari Pion, yang masih terlihat bersemangat menghidupkan kegiatan seni dan budaya di Singkawang, memang terlihat gelisah. Ia selalu mengisahkan ketika denyut kehidupan seni di Singkawang begitu bergairah. Ia sendiri aktif menghidupkan sanggar tari, terlibat dalam pembuatan film, juga musik.
Dia pun menyanggupi untuk keterlibatan dalam gerakan bersama seniman muda Singkawang. “Kite mulai dari yang mau jak dulu,” kata Johari Pion.
Malam itu kami langsung corat-coret bikin rancangan pementasan. Terpilihlah JOY COFFEE yang berada di Jalan Pramuka, Singkawang.
PEMENTASAN
Sejak Sabtu siang (23/03/2024), Sandi Muliawarman, dan tim Project Suwun, bergerilya meminjam sound system. Setting panggung sederhana dengan satu lampu sorot yang bisa berkedap-kedip. Kemudian ada latar kain hitam, dan pengeras suara. Beberapa buah buku menjadi aksen di pementas Sastra Singkawang. Satset panggung pun beres.
Bada isya kami sudah di Joy Coffee. Banyak anak-anak muda yang bermain game online. Mereka terlihat asyik dan seru. Sementara kami seperti makhluk alien yang tiba-tiba masuk dalam atmosfer mereka. Ini memang sebuah tantangan mencoba mengenalkan seni sastra di tempat-tempat yang biasa dijadikan tempat tongkrongan.
Sastra memang tak bisa dipaksa. Atau kita berpura-pura suka. Sastra itu memang memerlukan waktu yang istimewa untuk menyelaminya. Menikmatinya seperti melompat keluar dari ruang dan waktu lantas terjun bebas ke dalam dunia teks yang penuh dengan kejutan.
Saya kebagian membawa acara. Mengantarkan kawan-kawan seperti om Johari Pion, Mitha Ferniasari, Priska Yeniriatno, dan Sandi Muliawarman. Melihat penampilan mereka, kerinduan terhadap sastra seperti tanah kering yang tersiram hujan. Sementara suara teriakan anak muda bermain game terus menjadi ilustrasi musik selama pementasan yang membuat kami harus mengeluarkan energi lebih untuk bisa fokus.
Kami seperti menonton diri kami sendiri. Bicara sendiri. Tapi itu gak mengapa karena ini baru saja mulai untuk mengalirkan semangat untuk menghidupkan Sastra Singkawang. Semoga ini menjadi langkah yang baik.





