Skip to content

Mysingkawang

Kreativitas & Perubahan Sosial

Menu
  • Home
  • event
  • blog
  • budaya
  • Ekonomi Kreatif
  • Video
  • wisata singkawang
  • fotografi
    • Fotografer
  • PROFIL
    • PARTISIPASI
    • Liputan Media
Menu

Pintu Masuk Singkawang Era Kolonial

Posted on May 5, 2026May 24, 2026 by mysingkawang

Koran Java Bode, edisi 29 Desember 1860 (No. 104, hlm. 4), menayangkan sebuah iklan pelayaran kapal uap yang mengatur jadwal keberangkatan sepanjang tahun 1861. Iklan ini dikeluarkan oleh perusahaan W. Cores De Vries yang berbasis di Batavia dan Surabaya, serta didukung oleh jaringan agen di Semarang.

Di antara berbagai rute yang tercantum, terdapat satu jalur yang menghubungkan Batavia – Billiton (Belitung) – Pontianak – Singkawang. Penyebutan ini bukan sekadar informasi singgah, melainkan penegasan bahwa Singkawang merupakan bagian dari rute tetap dalam sistem pelayaran uap kolonial.

Jika menilik kondisi geografisnya, perairan di muara Sungai Singkawang tergolong dangkal. Dalam catatan dan peta kolonial Belanda, kawasan perairan ini dikenal dengan istilah reede van Singkawang, yaitu tempat kapal-kapal besar berlabuh di lepas pantai. Kapal layar maupun kapal uap tidak dapat merapat langsung ke daratan. Sebagai gantinya, proses distribusi orang dan barang dilanjutkan menggunakan perahu-perahu kecil yang bergerak dari titik labuh menuju pusat kota melalui jalur sungai.

Peran ini juga didukung oleh infrastruktur kota. Di kawasan yang kini dikenal sebagai Km 0, berdiri sebuah jembatan tarik (ophaalbrug) yang oleh masyarakat disebut Jembatan Agen. Keberadaan jembatan ini menandai pentingnya lalu lintas sungai sebagai bagian dari sistem transportasi yang terhubung langsung dengan aktivitas pelabuhan.

Melalui jalur laut dan Sungai Singkawang inilah berbagai kelompok manusia datang—pedagang lintas pulau, pejabat kolonial, hingga komunitas Tionghoa yang terlibat dalam jaringan perdagangan dan pertambangan. Mereka tidak hanya singgah, tetapi juga berinteraksi, menetap, dan membentuk struktur sosial kota yang kita kenal hari ini.

Arsip Java Bode ini memperlihatkan bahwa pada pertengahan abad ke-19, Singkawang telah menjadi bagian dari jaringan transportasi global berbasis uap yang terjadwal, terorganisir, dan terintegrasi. Laut dan sungai bukan sekadar lanskap geografis, melainkan nadi kehidupan kota.

Apakah jalur itu masih memainkan peran yang sama, atau justru telah kehilangan maknanya dalam perkembangan kota modern?

 

Dokumen : Java Bode, KITLV, Peta Kolonial
Sumber : Koleksi Digital Leiden
Artikel telah mengalami penyuntingan Chatgpt.

#arsipsingkawang merupakan kegiatan pengumpulan informasi berbasis dokumen masa lalu yang dibaca secara kritis untuk melihat relevansinya dengan Singkawang saat ini. Dikerjakan oleh Frino Bariarcianur dan Singkawang Art Laboratory (SAL) yang dipublikasikan oleh MySingkawang.

Liat Singkawang Lagi

  • Inilah Sungai Singkawang yang Kotor dan Berbau BusukInilah Sungai Singkawang yang Kotor dan Berbau Busuk
  • Diskusi Komunitas dan Aktivitasi Ruang pada Masa PandemiDiskusi Komunitas dan Aktivitasi Ruang pada Masa Pandemi
  • Mengenang PahlawanMengenang Pahlawan
  • Semangat Anggota KPPS SingkawangSemangat Anggota KPPS Singkawang
  • AKI 2024 Singkawang : Ajang Kreativitas Tanpa BatasAKI 2024 Singkawang : Ajang Kreativitas Tanpa Batas
  • Sepenggal Kisah Pengungsi Banjir SingkawangSepenggal Kisah Pengungsi Banjir Singkawang

About Author

mysingkawang

Website mysingkawang.id merupakan media komunitas yang diterbitkan oleh Perkumpulan Mysingkawang. Menyajikan ragam informasi seputar komunitas, seni, budaya, wisata, dan, kreativitas anak muda Singkawang. EDITOR : FRINO BARIARCIANUR Email : mysingkawangfree@gmail.com

See author's posts

  • arsip singkawang
  • singkawang tempo dulu
  • sungai singkawang
  • Leave a Reply Cancel reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ©2026 Mysingkawang | Design: Newspaperly WordPress Theme