
FAKTA LAPANGAN
Warga di sekitar Paniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, mendengar suara dentuman dan merasakan getaran pada Rabu malam, 17 Desember 2025. Sejumlah warga sempat panik dan bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi?
KETERANGAN RESMI BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 2,6. Episenter gempa terletak pada koordinat 0,29° LU dan 109,14° BT, atau sekitar 21 km tenggara Mempawah, dengan kedalaman 10 km.
Gempa terjadi pada pukul 20.07 WIB dan dirasakan dengan intensitas II–III MMI (Modified Mercalli Intensity), yang berarti getaran dirasakan oleh sebagian orang di dalam rumah, namun tidak menimbulkan kerusakan.
BMKG menjelaskan bahwa gempa ini tergolong gempa dangkal dan berkaitan dengan aktivitas struktur geologi purba di Kalimantan. Karakter dan jalur sesar-sesar tersebut hingga kini masih terus dipelajari secara ilmiah.

KALIMANTAN BARAT BUKAN WILAYAH TANPA GEMPA
Bagi sebagian masyarakat, gempa bumi di Kalimantan Barat mungkin terdengar tidak lazim. Namun data menunjukkan sebaliknya.
Berdasarkan kompilasi data BMKG Provinsi Kalimantan Barat, dalam rentang 2011 – 17 Desember 2025 tercatat 31 kejadian gempa bumi yang tersebar di berbagai kabupaten/kota, antara lain Sambas, Bengkayang, Landak, Ketapang, Sintang, Sanggau, Sekadau, Kapuas Hulu, Singkawang, Melawi, hingga Mempawah.
Magnitudo gempa bervariasi, mulai dari 1,6 hingga 5,0, dengan kedalaman relatif dangkal. Sebagian gempa bahkan dirasakan oleh masyarakat, seperti yang terjadi di Kendawangan (Ketapang) dan beberapa wilayah Landak serta Sanggau.
KENDAWANGAN DAN KLASTER GEMPA
Data juga menunjukkan adanya pola klaster di wilayah tertentu. Kendawangan, Kabupaten Ketapang, misalnya, tercatat mengalami beberapa gempa berulang, termasuk gempa berkekuatan M5,0 pada tahun 2016 dengan intensitas hingga V–VI MMI.
Pada tahun-tahun berikutnya, gempa dengan magnitudo lebih kecil kembali terjadi di wilayah ini. Pola tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seismik lokal memang ada dan berulang, meskipun tidak selalu menimbulkan dampak besar.
AKTIVITAS MENINGKAT DALAM SATU DEKADE TERAKHIR
Dalam 10 tahun terakhir, frekuensi kejadian gempa di Kalimantan Barat cenderung lebih sering tercatat dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini sejalan dengan peningkatan jaringan pemantauan gempa oleh BMKG di Pulau Kalimantan, yang kini didukung oleh puluhan seismograf, termasuk di Pontianak dan Entikong.
Peningkatan pencatatan ini tidak berarti ancaman bencana besar semakin dekat, tetapi menunjukkan bahwa Kalimantan Barat bukan wilayah seismik nol.
TIDAK PERLU PANIK, TAPI PERLU SADAR
Data ini bukan untuk menimbulkan ketakutan. Justru sebaliknya: untuk membangun kesadaran.
Kalimantan Barat memang relatif stabil dibanding wilayah pertemuan lempeng besar di Indonesia. Namun sejarah gempa di Kalimantan sejak tahun 1921—baik yang tercatat secara instrumental maupun dalam catatan lama—menunjukkan bahwa tanah yang kita pijak memiliki dinamika geologinya sendiri. Karena itu, yang perlu ditingkatkan bukan kepanikan, melainkan pengetahuan, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan.
Sumber Data:
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kalimantan Barat. Diolah oleh Mysingkawang dengan bantuan Ai.




