
Tumpahan Salok Fotografer Singkawang 2023 diikuti sejumlah fotografer Singkawang di Hito Coffee Shop, Kampung Nelayan Teluk Mak Jantu, Sedau, Singkawang, Jumat (12/05/2023). Tumpahan Salok alias temu kangen ini dilaksanakan secara sederhana dan penuh kehangatan.
Tentunya pertemuan para fotografer lintas generasi, baik perorangan, kelompok, dan komunitas ini tidak hanya soal menuntaskan rasa kangen. Tapi juga membincangkan program dan kegiatan yang bisa dilakukan bersama secara mandiri. Kegiatan yang tidak harus besar tapi memberikan dampak bagi keberlangsungan dunia fotografi.
Diantara para fotografer ada yang bergerak dalam bidang fotografi landskap, dokumentasi perkawinan, traveling, musik, foto jurnalistik, dan juga foto seni. Di Singkawang, fotografi dokumentasi perkawinan masih mendominasi ketimbang fotografi yang lain. Hampir lupa, para fotografer yang hadir juga adalah para pembuat video dan content creator. Beberapa musisi pun ada juga yang hadir.
Sebelum memulai pertemuan, kami, pada saat itu, mengenang dan mengirim doa untuk kawan-kawan yang sudah meninggal dunia diantaranya : Jomandi Loka, Marsuki, Fardiyansyah (Ian), dan Bang Anong. Mereka adalah kawan sekaligus guru bagi setiap fotografer yang pernah ikut bersama menggairahkan dunia fotografi di Singkawang. Orang-orang yang pastinya telah mewarnai fotografi Singkawang dengan segala kelebihannya.
View this post on Instagram
Dalam kesempatan itu setiap orang yang hadir mengutarakan gagasan dan kisah selama beraktivitas di Singkawang. Dan seperti “tradisi” fotografer lagi kumpul, saling melempar joke dan sindirian tentulah menjadi ciri khas sebagai bumbu kehangatan suasana. Saat itu pantai Teluk Mak Jantu begitu cerah.
Beberapa hal yang sempat tercatat diantaranya (1) membuat program hunting bersama, (2) diskusi, presentasi, dan bedah foto, (3) pameran bersama dan perorangan, dan (4) membuat dokumentasi kota Singkawang. Tumpahan Salok Fotografer Singkawang tidak hendak membuat kelompok atau komunitas baru, namun lebih berupaya membuat program bersama secara berkelanjutan.
Sehingga pertemuan demi pertemuan nantinya bisa digagas dan dikelola oleh siapa pun. Melalui grup watshapp “merahjingge” upaya itu terus digalakkan.
Pertemuan dengan secangkir kopi made in Hito itu menjadi tanda yang entah sudah keberapa kali dalam dunia fotografi, bahwa para fotografer Singkawang tetap punya semangat. Bukan hanya semangat mencari rejeki dari fotografi tapi juga semangat meluaskan fotografi ini untuk kehidupan.
Menjadikan fotografi benar-benar bagai sebuah jendela untuk melihat dunia yang lebih luas dengan segala tantangannya. Mari bergerak! []





