
Bermula dari kekhawatiran melihat abrasi pantai, nalayan tradisional Setapuk Besar berinisiatif menanam pohon bakau (mangrove). Komandonya berada di tangan Jumadi maka kegagalan demi kegagalan menjadi pelajaran untuk membuat strategi menahan abrasi.
Puluhan ribu batang mangrove pernah mati dihantam gelombang. Lantas Jumadi, yang juga ketua Kelompok Nelayan Surya Mandiri menghimpun kekuatan. Ia memulai dengan keluarga sendiri. Selanjutnya tetangga dan akhirnya satu kampong terlibat.
Bagi mereka, menyelamatkan pantai adalah menyelamatkan kehidupan mereka sendiri.
Kabar keberhasilan nelayan Setapuk Besar menanam mangrove tersiar cepat. Masyarakat Singkawang berbondong-bondong ingin melihat hasil usaha mereka. Di titik inilah, Jumadi melihat potensi lain dari semangat penyelamatan lingkungan, yakni potensi wisata alam hutan mangrove.
Bila dari pusat Kota Singkawang arahkan kendaraan menuju utara. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Kita hanya bisa menggunakan sepeda motor.

Kawasan pantai seluas 200 hektar ini memiliki jembatan warna-warni atau disebut Jembatan Pelangi. Di bagian depan berdiri 2 buah menara pantau setinggi 9 meter. Kita bisa menaiki menara untuk menikmati suasana.
Bisa juga menyusuri sungai hingga ke laut menggunakan perahu bermesin.
Beristirahatlah di bawah rindangnya mangrove. Ada warung kecil yang dikelola ibu-ibu nelayan. Sambil berbincang kita bisa belajar bagaimana cara pembibitan, penanaman mangrove, serta menjaga semangat agar tak mudah menyerah.
Di hutan mangrove ini tidak hanya melihat keindahan. Sesungguhnya kita melihat kegigihan para nelayan yang bertahun- tahun berjibaku menyelamatkan lingkungan. []






1 thought on “Menikmati Hutan Mangrove Setapuk Besar Singkawang”