Hati siapa yang tak gembira saat siswa datang mengunjungi sebuah pameran seni untuk belajar sejarah?

Kedatangan siswa SMAN 10 Singkawang yang jumlahnya ratusan bikin saya kaget. Sungguh saya tak menyangka jumlah mereka akan sebanyak itu. Adalah Yospiter Yulianus Amnesi, seorang guru sejarah, yang punya andil “penyerbuan” Gedung Landraad tempat berlangsungnya Pameran Seni ” R E L A S I – Cipta Pusaka Singkawang”, 2-10 Mei 2024.
Panitia yang jumlahnya segelintir orang meski kelabakan setidaknya bisa memberikan penjelasan tentang pusaka benda yang sedang dipamerkan.
Dari halaman parkir Gedung Landraad penuh dengan kendaraan roda dua milik siswa. Mereka berbaris sebelum masuk gedung. Saat itu saya jadi teringat kisah Syech Jimmy Bejebber atau biasa dipanggil Pak Usu Jimmy, seorang pelatih karate KKI Kushin Ryu Ju Jutsu, yang tinggal di Landraad Singkawang.
Menurut pria usia senja itu, dia pernah menerima tamu siswa dari Pontianak, jumlahnya pun ratusan. “Bangunan itok (ini) beh, No, rupenye dipelajari juak di sekolah. Jadi waktu libur biak sekolah dan mahasiswa dari Pontianak berkunjung ke sitok (sini).”
Pak Usu Jimmy bisa dibilang penjaga Landraad Singkawang sekaligus mengelola Dojo KKI Singkawang Dia termasuk orang disegani. Saya juga pernah diajar ketika masih SMP. Atlet karate yang puluhan tahun malang melintang dari pertandingan ke pertandingan hingga akhirnya memfokuskan membesarkan Dojo Sin Tai Gi.
Selama merawat Gedung Landraad, Pak Usu Jimmy menggunakan tenaga dan dana sendiri. Usianya sudah 60 tahun lebih. Meski sendiri, dia mampu menjaga bangunan tetap bersih dan halaman tampak rapi. Ada beberapa pot bunga menghias di pelataran. Ia tak lupa mengepel lantai papan. Duduk saat sore sambil ngopi enak di Landraad Singkawang. Soal keamanan terbilang baik.
Tak ada yang berani masuk sembarangan ke Landraad Singkawang. Penjaganya jago karate, sih!

Balik lagi ke kisah penyerbuan SMAN 10 Singkawang.
Siswa-siswi yang datang rata-rata baru pertama kali menginjakkan kaki di Landraad Singkawang. Kedatangan mereka adalah bagian dari mata pelajaran Sejarah Indonesia dengan program Lawatan Sejarah. Menurut Yospiter, ini adalah cara terbaik untuk mengenalkan sejarah Singkawang melalui bangunan bersejarah.
Setiap orang yang masuk harus melepas alas kaki. Alasannya, Pak Usu ingin membuat bangunan ini seperti memasuki sebuah rumah.
Para siswa berhamburan. Bersama kegaduhan dan riang gemira, mereka masuk menjelajah Gedung Landraad. Yap, gedung ini sudah berusia sekitar seratus tahun lebih! Dan kita yang menjejakkan kaki di gedung ini menjadi bagian dari upaya-upaya penyelamatan sejarah Singkawang.
“Belajar sejarah tidak hanya mendatangi bangunan bangunan, lewat tulisan maupun sumber skunder dan primer saja, tapi terjun langsung untuk menjaga benda-benda bersejarah yang masih ada,” kata Yospiter.
Tugas saya hanya menerangkan tentang pameran seni dan sejarah Landraad Singkawang sependek pengetahun yang saya miliki. Setidaknya dengan kedatangan mereka, kelak generasi muda Singkawang lebih peduli dengan sejarah kota mereka sendiri.

Pada akhir penyerbuan, Yospiter mengungkapkan, “Semoga masih berlanjut programnya, dan menambah benda-benda bersejarah yang ada lagi.”
Gedung Landraad Singkawang sudah ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya Singkawang. Pemilik tanah dan bangunan adalah Mahkamah Agung – Pengadilan Negeri Singkawang. Kondisinya masih baik meski sejumlah bagian mulai terlihat rapuh.
Entah sampai kapan Landraad Singkawang bisa bertahan.[]





