
Minggu, 12 Mei 2024, cuaca cerah. Kami berkumpul di Gedung Landraad untuk melaksanakan kegiatan “Jelajah Pusaka Singkawang”. Ini adalah rangkaian acara Pameran Seni “R E L A S I – Cipta Pusaka Singkawang 2024 yang digelar oleh Perkumpulan MySingkawang dan kelompok Singkawang Art Laboratory (SAL).
Tak banyak orang yang ikut. Kami tetap jalan.
Hanya beberapa langkah saja kami menghampiri maskot bangunan Singkawang Heritage, yaitu Gedung Mess Daerah. Kondisinya memprihatinkan. Pagar depan rusak parah, atap gedung depan (canopy) berantakan, dan lingkungan kotor. Sungguh tak terawat. Padahal sejak kerajaan Sambas berkuasa hingga Pemkab Sambas, Gedung Mess Daerah, adalah “hotel bagi pejabat” yang berkunjung di Singkawang.
Gedung Mess Daerah, dulunya adalah rumah seorang pejabat kolonial Belanda atau Residentientiele Affdeeling. Dibangun sekitar tahun 1920. Bersamaan dengan Gedung Vetor (perkantoran Belanda) termasuk Gedung Landraad tempat dilaksanakannya pameran seni RELASI – Cipta Pusaka Singkawang.
Saya agak nyesek dan kecewa dengan kondisi Mess Daerah. Beginilah jadinya bila pemegang kebijakan kota tak menganggap penting sebuah bangunan sejarah yang dapat kita sebut sebagai arsip sejarah kota. Entah apa dalam pikiran para pemegang kekuasaan itu? Bila tak mampu merawat, seharusnya Pemkot Singkawang mengibarkan bendera putih untuk menyatakan menyerah alias tak mampu merawat bangunan bersejarah.
Apakah Mess Daerah akan bernasib sama dengan Gedung Wanita yang dihancurkan oleh penguasa kota ini? Kita hanya bisa berharap tidak terjadi.
Kami melangkah lagi…..
Sebagai kelompok seniman yang baru saja dibentuk, SAL, ingin menjadikan Jelajah Pusaka Singkawang ini sebabai salah satu program bagi publik untuk mengenal sejarah Singkawang. Program ini mirip dengan kegiatan komunitas sejarah atau pecinta sejarah di berbagai kota di Indonesia seperti Komunitas Wisata Sejarah (Kuwas – Pontianak), Bogor Historical Walk, Komunitas Aleut (Bandung), Depok Heritage Community, Kesengsemlasem (Lasem), dan masih banyak lagi.
Membangun komunitas yang setia dengan program belajar sejarah secara asyik ini memang nggak mudah. Butuh waktu dan energi yang besar. Selain itu butuh strategi dan manajemen yang bisa bermanuver untuk mempertahankan program komunitas. Soal ketahanan dan kesetiaan ini memang jadi problem bagi banyak komunitas termasuk di Singkawang. Kemandirian komunitas memang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita.

Selanjutnya kami menyusuri tepi Sungai Singkawang. Seperti biasa, pusaka ini pun tampak kotor. Untunglah pasukan kuning tetap bekerja mengangkut sampah sungai. Kondisi sungai yang kotor karena sungai ini hanya dianggap sebagai tempat pembuangan berbagai kotoran. Saya tak menemukan kebijakan publik yang mengatur kelestarian Sungai Singkawang secara tegas. Mungkin Anda sebagai pembaca bisa membantu saya?
Kami melihat lansekap Singkawang. Berdasarkan literatur sejarah. Pusat kota Singkawang ini juga adalah sebuah pelabuhan kecil yang punya hubungan dengan negara Singapura, dan kerajaan-kerajaan di nusantara. Lalu tibalah kami ke rumah tradisional Tionghoa yang fenomenal. Sebuah rumah saudagar kaya raya milik Keluarga Tjhia (Marga Tjhia).
Kondisi rumah Marga Tjhia masih terawat dengan baik. Kok bisa?
Inilah pentingnya bangunan sejarah didiami serta memiliki aktivitas di dalamnya. Sebab manusia baik itu individu dan kelompok yang berada di bangunan bersejarah secara otomatis akan menyelamatkan, merawat, serta melestarikan keberadaan bangunan. Ia masih menjadi “rumah” yang harus disayangi hingga diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di Singkawang kita bisa membandingkan bangunan megah yang dibangun milyaran rupiah, yaitu bangunan perkantoran Pelabuhan Sedau. Berdiri sejak tahun 2015, tidak pernah digunakan, kosong, dan akhirnya berantakan. Ini bukti ketidakmampuan. Ini bukti ambisi yang berlandaskan kepentingan ekonomi semata. Pembangunan yang akhirnya sia-sia.
Jelas ini tanda-tanda kekhawatiran kita terhadap berbagai model pembangunan yang serampangan serta nasib bangunan sejarah di Singkawang.
Bayangkan, bangunan yang keren, dibangun dengan teknologi terkini, akhirnya berantakan. Bagaimana dengan bangunan bersejarah yang sudah tua, yang dianggap tak up to date itu? Sehingga dari berbagai peristiwa dan melihat kemalasan pejabat publik membaca sejarah, saya tak punya keyakinan mereka bisa merawat “memori kolektif” Singkawang.

Para pejabat publik ini hanya ingin merawat sejarah kekuasan mereka saja. Sibuk dengan simbol-simbol kekuasaan semata. Dan itu memalukan!
Oke, saya dan kawan-kawan kelompok kecil ini harus melangkah lagi. Panas matahari membuat kami mulai bergegas.
Para pembaca yang budiman, meski “menyusuri sejarah” tidak populer di kalangan anak muda Singkawang, SAL percaya dengan langkah kecil yang berkelanjutan dapat menjadikan Jelajah Pusaka Singkawang sebagai salah satu metode asyik untuk mengenal Singkawang.
Semoga!
View this post on Instagram





