
Puncak perayaan Imlek hari ke-15 yang jatuh pada Sabtu, 8 Februari 2020, tetap menyedot perhatian orang. Sekira 800 lebih Tatung memperlihatkan kemampuan mereka. Sejak pagi hari sekira 06.00 WIB, jalan-jalan utama di kota Singkawang dipadati puluhan ribu orang. Menyaksikan pertunjukkan yang menyeramkan.
Sementara para tatung sudah bersiap sejak pukul 04.00 WIB di rumah masing-masing. Bahkan banyak tatung yang mengantarkan tandu pada Jumat malam (7/02/2020) lalu menyusun rapi di tepi jalan.
Seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya, festival ini harus banyak menunggu. Entah menunggu kesiapan siapa. Jadi kita bisa membayangkan para tatung yang sudah ditusuk pipinya itu harus berlama-lama menunggu. Energi mereka sudah terkuras selama menunggu dan akhirnya ketika parade bermula, di tengah jalan, banyak yang terlihat kelelahan.
Tak berasa, kiranya sudah lebih 30 tahun saya menyaksikan peristiwa penting ini. Tatung kecil sudah dewasa. Orang tua mereka pun sudah banyak yang pensiun, tak lagi tampil. Selebihnya ada yang meninggal dunia karena usia atau sakit. Tatung-tatung muda melanjutkan kewajiban keluarga untuk melaksanakan ritual tolak bala atau yang dikenal dengan nama cuci jalan pada perayaan Cap Go Meh.
Pada saat itulah, mereka yang menjadi pedagang, tukang masak, montir, tabib (singsang, dokter tradisional) menunjukkan identitas diri mereka yang lain.
Cap Go Meh di Singkawang dengan tatung titik fokusnya adalah peristiwa yang digagas oleh orang-orang terdahulu di Singkawang yang belum ada tandingannya. Sebuah warisan budaya yang terjaga dari generasi ke generasi Tionghoa untuk banyak orang yang hidup di Singkawang.
Adakah gagasan lain dari orang masa sekarang untuk masa depan?














